Masyarakat Amerika lagi gamang. Krisis ekonomi tahun 2008 telah memiskinkan kelas menengah negara ini yang membuat apa yang disebut dengan American Dream hancur berantakan. Kini kampanye untuk mengembalikan mimpi Amerika itu tengah diluncurkan.
Lalu siapa gerangan yang membunuh mimpi Amerka itu? Jika pertanyaan ini diajukan kepada pengikut atau simpatisan Partai Demokrat, jawabannya jelas: Partai Republik.
Sebuah kampanye yang disponsori organ Partai Demokrat berjudul Don't Kill the Dream yang hari-hari ini tengah digelindingkan di Amerika dengan sangat jelas menuding Partai Republik sebagai pembunuh mimpi-mimpi (warga) Amerika.
"Kami meminta Partai Republik bertanggung jawab atas matinya American dream," ujar salah satu pengurus Democracy fotr America, organisasi pendukung Partai Demokrat yang mensponsori kampanye ini.
Krisis ekonomi Amerika 2008 tentu saja tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada kesalahan kebijakan Presiden Bush dari Partai Republik yang amat memanjakan orang-orang kaya dan perusahaan besar dengan pajak yang super minim.
Tapi dalam politik harus ada yang disalahkan, dan itu, tak lain dan tak bukan, adalah Partai Republik.
Sebuah artikel di Financial Times baru-baru ini menyebutkan, kelas menengah Amerika yang dihasilkan oleh keberhasilan ekonomi selama ini hancur berantakan dan tinggal 10% saja akibat krisis ekonomi 2008.
Fakta bahwa kelas menengah negara ini tinggal sedikit menunjukkan bahwa American Dream, menurut Democracy for America, tengah terancam. "Para veteran perang pulang ke rumah dengan harapan yang menipis, anak-anak muda berpendidiakn tak memilik pekerjaan yang layak, bank-bank yang dulu menolong perusahaan besar menyita rumah-rumah kita, petuga pemadam kebakaran, suster, polisi, guru, berjuang keras untuk hidup," tulis Democracy for Amerika di situs resminya.
"Kita mengalami krisis lapangan pekerjaan, bukan krisis defisit," lanjut organisasi ini. Krisis defisit (anggaran) merujuk pada perdebatan soal anggaran dimana Partai Republik menginginkan, akhirnya terwujud, defisit anggaran dikurangi.
Amerika negara kaya, masih menurut kampanye Dont Kill the Dream, dan tak ada satupun orang atau perusahaan yang boleh mengambilnya dengan hanya mengembalikan sedikit saja. Ini menyindir pembebasan pajak korporasi besar yang, dinilia dan faktanya memang begitu, mengeruk untung tapi tak mau mengembalikannya kepada negara lewat pajak.
Bagi para pendukung pembebasan pajak, terutama dan satu-satunya,Tea Party - kelompok dalam Partai Republik yang berhaluan sangat liberal - korporasi besar itu mendapatkan untung dari kerja kerasnya dan tak ada kewajiban untuknya menyumbangkan sebagian kekayaannya bagi orang-orang miskin yang pemalas. Jadi, kenapa harus bayar pajak besar? Kira-kira begitulah jalan pikiran mereka yang diadopsi oleh Presiden Bush, dulu.
Tapi bagi penentangnya, kelompok Demokrat, kebijakan pembebasab pajak ini sungguh ironis dan absurd. Saatnya mengembalikan pajak yang adil bagi seluruh warga negara, tidak terkecuali di Wall Street (pasar modal) yang selama ini banyak menikmati untung tapi sedikit bayar pajak.